Percaya atau tidak, jika saya katakan masih ada orang Kabupaten Bangai khususnya di wilayah-wilayah timur Kabupaten Banggai, seperti di Bualemo, Balantak, Lamala, dan bahkan Masama, yang sampai saat ini belum pernah menginjak-kan kakinya di Luwuk? Percaya atau tidak, itu tidak penting. Yang penting adalah, mengapa itu terjadi.
Fakta-fakta berikut akan menggiring ingatan kita, hingga sampai pada kesimpulan bahwa terjadi kesenjangan pembangunan di daerah ini. Begini, jika ada orang Luwuk yang baru pulang dari Jakarta, atau kota-kota besar lainnya di Indonesia, akan terlihat lebih istimewah. Bahkan, ia akan menjadi “bintang” diantara teman-temannya yang belum pernah ke Jakarta atau kota-kota besar lainnya.
Begitu juga dengan apa yang terjadi di Kabupaten Banggai. Jika ada “orang timur” Kabupaten Banggai yang baru pulang dari Luwuk, maka ia akan terlihat lebih istimewa dikampungnya. Bahkan ia akan menjadi “bintang” diantara rekan-rekannya itu. Kemarin, saya melihat beberapa anak-anak kecil Pangkalasean, (di pedalaman Balantak itu) yang sedang asyik bercerita. Sesekali mereka saling mengejek, dan bahkan mengolok-olok satu sama lain.
Setelah saya telisik, ternyata anak-anak itu sedang mengagung-agungkan salah satu temannya, yang baru saja pulang dari Luwuk mengikuti ibunya berbelanja isi kios di-rumahnya. Ia bercerita tentang Luwuk yang indah, yang ramai, yang banyak kendaraan, dan lain-lain. Sementara yang lainnya tetap ngotot dengan pendapatnya, bahwa pangkalasean lebih bagus dari Luwuk.
Saya benar-benar terharu dengan kenyataan itu. Namun saya pikir, anak-anak memang tidak mengerti apa-apa. Luwuk memang ramai, namun kompleksitas masalahnya-pun kian pelik. Namun, hal itu tentu tidak akan bisa diperbandingkan dengan pangkalaseang yang minim fasilitas itu.
Nah, jika kita menyebut wilayah timur Indonesia menjadi kawasan tertinggal di republik ini, maka hal itu sama saja dengan apa yang terjadi di daerah kita. Wilayah timur Kabupaten Banggai adalah kawasan yang sangat tertinggal dari pembangunan. Fenomena yang saya sebutkan tadi, adalah satu dari deretan fakta tragis tentang kesenjangan pembangunan yang diciptakan pemerintah daerah.
Hanya saja, pemerintah Indonesia memiliki program percepatan pembangunan wilayah timur Indonesia, sebagai bentuk komitmen untuk mendorong pemerataan pembangunan, serta membangun kesejahteraan rayat yang lebih berkeadilan. Lihat saja bagaimana Presiden SBY mencanangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri di Palu, ibukota Provinsi Sulteng beberapa waktu lalu. Itu adalah bagian dari wujud keberpihakan atas komitmen kerakyatan.
Pertanyaannya, untuk kita di Kabupaten Banggai, adakah program yang didesain Pemda Banggai untuk kepentingan masyarakat timur Kabupaten Banggai? Melalui tulisan saya ini, saya menyatakan sama sekali tidak ada !.
Mengapa? Ada beberapa penyebab yang sangat mendasar. Pertama, sampai saat ini tidak ada kesadaran Pemda Banggai, bahwa Kabupaten Banggai ini tidak saja di dalam kota Luwuk saja, melainkan tersebar di 13 kecamatan (sekarang sudah 18) kecamatan. Kedua, distribusi pembangunan tidak didasarkan pada skala perioritas berdasarkan kepentingan rakyat, melainkan didasarkan para skala perioritas berdasarkan konspirasi dan hitung-hitungan untung-rugi para elit. Ketiga, lemahnya peran wakil-wakil rakyat yang berasal dari wilayah timur Banggai, karena daerah pemilihan satu masih di dominasi anggota DPRD dari Kota Luwuk saja.
Sama seperti bangsa ini, yang seolah hanya di di Jakarta saja. Proyek pembangunan dikucurkan bukan pada fakta kemiskinan, melainkan pada seberapa besar sogokan daerah ke pusat, serta dominasi elite Jakarta terhadap kebijakan nasional. Melihat Luwuk, begitulah Indonesia. Maka, jika di Jakarta ada skandal century, apakah kasus serupa tak ada di daerah ini? (*)
Luwuk ; Miniatur Indonesia
Mei 9, 2010 oleh pilabeanku













Assalamu’alaikum.
salam kenal, salam persahabatan, salam luwuk.
meskipun saya hanya tiga tahun tinggal di luwuk…, tapi setidaknya sedikit banyak tahu tentang luwuk, (saya lebih jauh lagi, di banggai kepulauan he he he).
baru tersadarkan juga, kesenjangan itu terjadi juga di kota luwuk. saya kemudian berpikir.., bagaimana nanti jika anak-anak (seperti yang diceritakan di atas) menginjakkan kaki di kota yang jauh lebih besar daripada Luwuk? maka akan terlihat seperti orang yang kebingungan akan “kemegahan” yang ada. yah.., kemegahan dibalik berbagai kesenjangan.
hi…
Assalamualaikum..
Salam kenal sodara seLuwuk he he…
Saya berasal dari Toili tapi sejak SMA saya tinggal di Luwuk kemudia saya pindah di Makassar, Jakarta dan kemudian di Tokyo Jepang, saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan Jepang yg ada di Bali.
Walaupun saya berada jauh dari Luwuk, saya sangat konsen terhadap perkembangan dan kemajuan Luwuk dan daerah sekitarnya..
Saya sangat terharu membaca tulisan anda ini, sedemikian parahkah situasi dan kesengajan sosial yg ada di wilayah Luwuk dan sekitarnya… para elit di daerah itu seolah olah menutup mata n telinga mereka akan semua itu. Yang mereka fikirkan hanya kebutuhan mereka terpenuhi saja. pemerataan pembangunan di daerah ini masih jauh dari harapan disamping keterbatasan sumber daya manusia yg dimilikinya. Mungkin bukan hanya daerah Pangkalasean saja di daerah pelosok lainpun saya rasa kondisinya sama bahkan mungkin jauh lebih parah…
Saya berharap suatu hari nanti bisa kembali dan menetap di Luwuk tuk bersama membangun Luwuk.
Wassalam
Shandy
(kunjungi jg blog baru ku tentang Luwuk-Toili yg baru aku buat kmrn yaa : http://luwuk-toili-admirers.blogspot.com/ )
Assalamualaikum
Saya turut prihatin dan pernah jg merasakan ketidak merataan pembangunan di Indonesia.. Selama 20 th saya hidup di Jakarta. Pada tahun 2001 saya di tugaskan di Luwuk, begitu kaget rasanya pertama kali tinggal disana, sesuatu yang dulu dengan mudah didapatkan di jakarta tetapi di luwuk begitu sulit.. Internet dan teknologi gsm belum ada (waktu itu), isi bbm buat kendaraan bermotor saja antrinya gak karuan, lisrik yang hampir tiap malam mati.. terngianglah dibenak saya bahwa pembangunan di Indonesia ini jauh dari pemerataan, saya tidak bisa membayangkan lagi bagaimana ketertinggalannya pembangunan di papua sana atau wilayah timur lainnya.. sekarang saya sudah kembali ke Jakarta. Mudah-mudahan para pemimpin daerah di sana lebih cepat dibangunkan dari tidurnya. Sukses selalu untuk Luwuk
Wassalam
saya baru sekali ke luwuk,…namun kesan yang saya dapat adalah : LUWUK BAGAIKAN BERLIAN YANG BELUM DI GOSOK.
mengapa?..banyak potensi yang harus di gali.inilah tugas bersama.Bukan cuma pemerintah,namun semua elemen di dalamnya.terlebih adik2 yang baru menyelesaikan kuliahnya,ilmu yang di dapat kembangkan dan realisasikan itu untuk daerahmu sendiri.Pariwisata,Kelautan,Tambang,dan lain-lain.Kalau bukan Kita ,siapa lagi yang akan bangun ini Luwuk.saya orang luar yang bukan asli Luwuk penasaran dengan perkembangan daerah ini.Mari amalkan Ilmu yang kalian dapat semasa kuliah dulu.bangun luwuk.bagi pemerintah,lakukan terebosan dengan mencontoh daerah lain.undang investor,permudah birokrasi perijinan,berilah kemudahan dalam permodalan,saya yakin semua akan maju.
Mari Bangun Luwuk.
assalam…..
saya dari toili,.
memang cukup memprihatinkan.. kalau kita sebagai generasi muda, membiarkan saja..
kesenjangan yang terjadi di kabupaten luwuk merupakan hasil dari kinerja Pemda yang secara sengaja memarjinalkan daerah-daerah pelosok dan pemusatan pembangunan. belum lagi, dengan adanya investor asing yang akan mengeksploitasi kekayaan alam di kabupaten luwuk. hal ini akan menambah semakin tingginya kesenjangan sosial, khususnya di daerah pedesaan.
saya sebagai masyarakat kabupaten luwuk, ingin menyaksikan adanya pemimpin yang tulus memperjuangkan rakyatnya dan melayani rakyatnya dengan baik.
_baehaki_