Pria tua berkulit tebal
Dengan dada telanjag,
Berjalan dengan setengah jongkok.
melintasi jalan yang penuh belukar.
terik matahari membakar,
memicu denyut nadi yang mulai malas.
Anakya yang kurus kering, menangis.
Sambil mengosok perutnya yang kerut.
Keringat dingin bercucuran..
mengalir membasahi tubuh.
Ia lapar,
Namun bapaknya pun demikian.
onggokan sampah di jalan-jalan,
menjadi harapan hidup.
di utak atik,
dikumpulkan,
dibungkus,
lalu dijual.
untuk sesuap nasi.
Sementar Disana,
Wajah ceriah penuh dusta
diatas kursi-kursi empuk parlemen.
Membicarakan kebohongan, dengan mimik yang suci
Berteriak lantang di depan forum,
agar tak terlihat wajah yang rakus.
Lalu ramai-ramai merampok uang negara
Disana,
Mereka duduk manis seolah tanpa dosa
Mengukir jemari, dengan kilauan emas berlian.
Menutup telinga dengan jerit tangis yang pilu.
Disana,
Dibalik kaca-kaca tebal gedung bertingkat.
Dibelakang meja..,
Aku melihat mereka yang berdasi,
dengan wajah penuh bopeng.
Tertawa lebar, dan bersepakat
Tentang jabatan barunya.
Suara lapar dari kolong jembatan,
Atau dari sudut-sudut kota..
Menggelegar, namun kembali bisu.
Sepi…
Jantung kota ini menjadi saksi,
Betapa tangis-tangis itu kian melarut pilu
Dalam dinginnya gelap malam.
Namun disana,
Mereka tetap saja diam,
yang berdasi, yang memangku kebijakan.
Duduk manis dengan kepulan asap dari mulutnya.
dengan seribu alasan.
tangisan itu,
jeritan itu,
tidak membuat mereka terusik.
beginilah kita,
dan itulah mereka,
dua sisi yang berbeda
***
Lembah Masama 2010












