(Catatan Dari Lembah Masama)
Oleh : Gafar Tokalang
SEJAK kecil, kita telah mengenal namanya mimpi. Mimpi adalah sebuah kilasan peristiwa yang terbersit saat kita tertidur lelap. Sementara dalam realitas kehidupan nyata, sejak kecil kita juga ditanamkan untuk bermimpi, mempunyai mimpi atau bisa dikatakan bercita-cita. Sampai-sampai slogan “Bercita-citalah setinggi langit” ditempel di dinding kelas waktu SD.
Dalam konteks inilah, saya mempunyai mimpi atau bisa dikatakan sebuah impian. Mimpi ini saya sampaikan kepada siapa saja, kepada semua pembaca Luwuk Post. Tentu, harapannya adalah mimpi ini bisa menjadi kenyataan.
Begini ceritanya, sejak kelahiran saya di dunia ini, saya lahir dan dibesarkan di wilayah timur Kabupaten Banggai, atau yang belakangan ini ngetop dengan sebutan “Kepala Burung”. Saya dilahirkan 26 tahun yang lalu, di sebuah desa tertinggal yang saat ini sudah menjadi pusat ibukota Kecamatan Masama, twpatnya di Desa Tangeban. Dahulu, kecamatan Masama masih menjadi bagian dari Kecamatan Lamala.
Dari pengalaman singkat selama ini, saya sudah dapat melihat betapa kemiskinan dan ketertinggalan masih menjadi sesuatu yang fenomenal di wilayah ini (Senior-senior saya tentu lebih tahu). Belum ada perubahan yang signifikan dari potret kehidupan masyarat di kepala burung, sajak dahulu hingga saat ini. Sebab, kesejahteraan masih menjadi milik orang perorang dan belum menjadi milik bersama.
Jalan-jalan umum masih penuh dengan kubangan air, sekolah-sekolah masih minim fasilitas, masih ada warga yang tidur menahan sakit karena tidak punya uang untuk berobat. Masih ada anak-anak yang keluyuran di bawah pohon kelapa dan tidak sekolah. Singkatnya, realitas ini masih sama dengan beberapa tahun silam.
Sejak lama saya bermimpi wilayah ini bisa berubah. Kesejahteraan bisa dirasakan secara bersama-sama, jalan-jalan umum bisa lebih baik, fasilitas disekolah bisa lebih maju, tidak perlu lagi ada yang berbaring di rumah menahan penyakit, tidak perlu lagi ada anak-anak putus sekolah yang keluyuran. Saya bermimpi kemerdekaan itu benar-benar dirasakan masyarakat di wilayah ini.
Awalnya, saya berfikir mimpi ini sulit terwujud. Sebab, kata pak Jefri, udztad yang terkenal itu, perubahan tidak akan datang bila masyarakatnya sendiri yang tidak mau berubah. Namun, saya melihat ada keinginan besar masyarakatnya untuk berubah. Mereka bekerja keras, membuka perkebunan, pertanian, berdagang, menjual jasa, dan lain-lain. Tapi apa yang terjadi, bangsa ini bukanlah hutan belantara. Ada sistim yang mengatur kehidupan masyarakatnya. Maka harapan perubahan itu sangat ditentukan pula oleh keberpihakan pemerintah.
Kini saya sudah besar dan dewasa. Pemahaman saya sudah lebih baik dari sewaktu kecil. Maka, sayapun melihat ada harapan perubahan disana. Dipundak para senior-senior saya yang sukses dan hebat. Maka mimpi tentang perubahan di kepala burung pun kembali terulang.
Saya melihat disana ada pak Hi. Sahrain Suni, ada pak Hi. Suwarto Mahiwa, ada pak Arsif Ampebali. Dan masih banyak lagi tokoh besar kepala burung lainnya. Mereka juga mempunyai mimpi. Mimpi yang sama tentang kepala burung dimasa yang akan datang. Dipundak mereka ada ribuan harapan masyarakat, tentang mimpi-mimpi perubahan.
Saking banyaknya mimpi dan impian, terkadang kita melupakan bagaimana caranya untuk membangun mimpi tersebut. Sebab, yang menjadi persoalan adalah, membangun sebuah mimpi bukan perkara gampang seperti membalikkan telapak tangan. Masalah yang sering dihadapi saat membangun mimpi adalah; kita lupa bahwa kita sedang bermimpi dan melupakan realitas yang ada. Untuk itu, kalau kita mau membangun sebuah mimpi yang telah dibuat, hal yang pertama dilakukan adalah bangun dari tidur…(*)












