Oleh: ANANG S. OTOLUWA
Dari seorang teman, saya menerima SMS yang bunyinya seperti ini; “Berbuat dosa itu biasa, meminta maaf itu luar biasa, dan memberi maaf itu harus bisa. Selamat Idul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir dan bathin”.
Teman saya ini tergolong cerdik. Agar permohonan maafnya mulus diterima, dia perlu memberi pelicin. Dia tahu bahwa memaafkan itu terkait dengan mengampuni kesalahan. Karenanya dia mengingatkan, seandainya dia pernah berbuat salah atau berdosa, itu merupakan hal yang lumrah atau biasa. Semua kita mungkin pernah melakukannya. Berikut, dia memaklumkan bahwa kesediaannya untuk meminta maaf ini tergolong luar biasa. Tidak semua orang sudi untuk melakukannya. Karena itu permohonan maafnya harus diresponi. Terakhir, dia juga menyadari bahwa memberi maaf itu adalah perbuatan yang sulit. Karenanya dia mengatakan bahwa kita harus berusaha agar bisa melakukannya. Kalau sudah begini, maka tak ada jalan lain, mau tidak mau, suka tidak suka, kita tetap harus memberi maaf.
Kenapa memberi maaf itu sulit? Karena ini menyangkut eksistensi, jati diri, keberadaan, ego, atau harga diri kita. Bila orang lain berbuat salah kepada kita, semisal menipu, membohongi, menghianati, mencaci, menghina, memukul, memandang enteng, atau melangkahi kewenangan, maka keberadaan kita seolah-olah tidak dianggap lagi. Jati diri kita seolah telah lenyap, atau harga diri kita menjadi anljok. Itu sama artinya dengan menganggap kita telah mati. Makanya kita merasa sakit hati.
Ego atau jati diri ini tumbuh dan kita pelihara sesuai status sosial kita. Kita pupuk dia agar tumbuh dan besar menyesuaikan dengan pandangan orang-orang di sekitar kita. Ia akan terkait dengan pekerjaan, harta, keturunan, jabatan, atau kedudukan kita dalam hirarki sosial kemasyarakatan. Dulu, ketika kita belum jadi apa-apa mungkin kita tak begitu gampang marah. Kita tak gampang tersinggung, sehingga gampang memaafkan. Tapi setelah punya harta sedikit lebih, kedudukan, jabatan, atau kekuasaan maka semua itu mulai berubah. Kita mematok harga diri kita menjadi lebih tinggi. Ego kita pun menjadi lebih sensitif.
Karena itu, setiap saat kita sibuk melindungi ego. Kita merasa was-was terhadap segala sesuatu yang mengancam keberadaan kita. Cara yang sering kita lakukan adalah dengan berusaha menutupi kekurangan yang ada. Misalnya, kita merasa menjadi orang paling tahu sesuatu sehingga tak perlu mendengarkan saran dan pendapat orang lain. Merasa bahwa tindakan kitalah yang paling benar sehingga apa yang dilakukan oleh orang lain selalu keliru. Karena merasa paling benar maka kita merasa diri tak pernah salah. Hal-hal di atas perlahan-lahan akan terbentuk di alam bawah sadar kita. Ini menjadi respon otomatis kita terhadap masalah yang kita hadapi.
Inilah sebenarnya yang selalu menghalang-halangi kesediaan kita untuk memberi maaf. Hakekat memaafkan adalah mengurangi kemarahan, dendam, atau ketidakmauan kita untuk berinteraksi dengan orang yang pernah berbuat kesalahan kepada kita. Untuk itu kita harus menurunkan harga diri yang telah susah payah kita buat menjadi tinggi. Disaat inilah kita merasakan ada sesuatu yang akan mengusik ego kita. Kita menjadi ketakutan, jangan-jangan dengan memberi maaf kita akan dianggap lemah, atau harga diri kita menjadi rendah. Karena itu bisa dipahami kenapa manusia menjadi sulit untuk memaafkan.
LEBARAN
Tapi sesulit-sulitnya anda memberi maaf, pada saat lebaran, saya yakin anda akan jadi pemaaf. Saat lebaran jarang saya saksikan ada orang yang marah-marah. Sebaliknya, semua orang berubah jadi sangat ramah. Tak salah bila ada pendapat bahwa kata lebaran bermula dari kata lebar yang mewakili suasana hati yang luas, atau lapang. Saat itu hati kita menjadi lebar, luas, atau lapang sehingga sanggup untuk menampung semua permohonan maaf yang datang. Demikian pula, pikiran kita menjadi terbuka untuk menarik tabungan amarah kita, memberikan korting terhadap kebencian, serta mereduksi dendam yang selama ini ada.
Kenapa demikian? Hal ini bukan terjadi begitu saja, tetapi terkait erat dengan faedah lapar puasa yang kita lakukan sebulan. Saat lapar kita menjadi sadar akan kelemahan kita. Kekuatan kita ternyata tak seberapa dibanding dengan kekuatan Allah SWT. Demikian pula kekuasaan kita. Buktinya, kita tak bisa berbuat banyak kalau Tuhan memisahkan kita dari makan dan minum dalam beberapa hari saja. Maka kalau pada hari biasa kita menganggap harta, kekuatan, kedudukan, jabatan, atau kekuasaan menjadi ukuran keberadaan kita, pada saat lapar semua itu tak banyak artinya. Hari-hari puasa menyadarkan kita bahwa sebenarnya kita ini bukan apa-apa.
Dengan begitu puasa telah menata ego kita. Kita wajib berterima kasih kepada Tuhan yang telah menciptakan fasilitas ini. Puasa telah menyadarkan bahwa ego yang kita bentuk terhadap diri yang sebenarnya semu. Dalam konteks ini saya teringat akan pernyataan Iqbal tentang neraka. Pemikir yang juga sastrawan Islam ini mengatakan bahwa neraka adalah alat yang diciptakan oleh Tuhan untuk membakar ego kita yang telah membatu. Nah, bila dengan puasa kita telah mampu melunakkan atau mencairkan ego kita, mudah-mudahan suatu saat nanti kita tak perlu disentuh oleh api neraka lagi.
Dengan merenungkan SMS dari teman di atas, ditambah lagi hasil tempaan puasa selama sebulan ini, maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak memberi maaf. Sebagai manusia yang dhaif saya pun memohon maaf. Selamat berlebaran. Semoga anda pun sudi memaafkan saya.***













—kunjungan balik—
kadang2 memaafkan dan mengikhlaskan sesuatu emant agak sedikit ssh tp bapakQ bilang *bw bapak negh*, itu lah sedikit pelajaran atau ilmu hati yg hrs mampu ditanamkan kepada diri Qta msg2…
memaafkan? mudah saja..tp hati juga harus diajak bicara.. hehe
memaafkan memang pekerjaan yg paling susah tpi setelah qta memberi maaf pd se2orang,hati dan persaan plong ga ada beban sama sekali,,,,,,seperti terlahir kembali..?!!!!