TULISAN ini dibuat sekedar mengkalrifikasi atau memberikan jawaban atas artikel yang ditulis oleh Nasri Sei di media Luwuk Post (edisi Sabtu (3/5/2008). Dalam tulisan itu, Nasri mencoba memberikan argumentasi atas tulisan yang saya buat pada edisi sebelumnya.
Saya tidak berniat berpolemik seputar pertambangan nikel di daerah ini. Saya hanya ingin semua pihak, khususnya kalangan yang peduli terhadap kondisi daerah ini, untuk ikut serta dalam memberikan sumbang saran terhadap proses pembangunan di daerah ini, dengan memandang titik persoalan secara fokus dan objektif. Selain itu, karena tulisan tersebut cenderung menjastifikasi dan mengarah pada character assassination terhadap penulis, maka penulis ingin memberikan argumentasi tambahan atas sejumlah penyataan yang dilontarkan Nasri dalam tulisannya itu.
Ada beberapa hal yang bagi penulis ditafsirkan secara keliru dalam tulisan sebelumnnya. Pertama, soal invetasi. Penulis tidak pernah menyatakan menolak investasi yang masuk di daerah ini. Sebab, investasi adalah sesuatu yang penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sebuah daerah, dan materi seputar itu saya kira sudah selesai, dan sudah oke. Sehingganya, dalam tulisan terdahulu, penulis sama sekali tidak menyebutkan adanya sikap penolakan terhadap kebijakan investasi yang dilakukan Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai selama ini. Penulis hanya mencoba menghubungkan klaim kesejahteraan masyarakat yang ditimbulkan investasi pertambangan nikel, yang kerap disebut-sebut pemerintah daerah, dengan fakta dan fenomena kekinian yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita.
Faktanya adalah, di Kecamatan Bunta, reaksi penolakan warga cukup tinggi, aksi demo merebak silih berganti datang ke DPRD antara pihak yang pro dan kontra, kerusakan sarana dan pasarana publik (baca:jalan) akibat aktivitas pertambangan nikel di wilayah itu, dan sederet persoalan sosial lainnya yang timbul. Begitu pula di Masama. Konflik batas antara Kecamatan Luwuk Timur dan Masama sangat terkait erat dengan masuknya perusahaan nikel di wilayah itu, serta benturan sosial bagi pemuda dan masyarakat antar desa di Masama, juga terjadi akibat kecemburuan sosial yang timbul dari model rekrutmen tenaga kerja perusahaan, yang dinilai tidak adil.
Deretan persoalan itu adalah fenomena yang terjadi saat ini. Sehingga klaim provokator atau asal bunyi, yang dialamatkan Nasri terhadap penulis, sangat tidak memiliki alasan yang cukup. Mestinya, Nasri juga dapat menunjukan fakta-fakta dan data, bahwa pertambangan nikel di daerah ini benar-benar telah memberikan manfaat bagi daerah dan masyarakat, sehingga gagasannya juga bisa diyakini kebenarannya.
Sebab, fakta juga menyebutkan, dari sisi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Banggai per Triwulan I 2008 dari bidang pertambangan masih 0 persen, padahal aktivitas pengangkutan material tambang Nikel di Bunta, sudah sejak lama dilakukan. Dimana letak fakta keuntungan bagi daerah ini sebagaimana yang disebutkan Nasri? sekali lagi, argumentasi Nasri juga sulit diterima kebenarannya.
Penulis juga hendak menyampaikan fenomena penolakan masyarakat Gorontalo terhadap aktivitas pertambangan, yang oleh Nasri disebutkan tidak pernah terjadi. Sebab, pada tahun 2003-2004, terjadi penolakan warga Kecamatan Sumalata (saat ini masuk wilayah Kabupaten Gorontalo Utara), terhadap perusahaan PT. Aneka Tambang (PT.Atam), yang akan melakukan eksplorasi dan ekspolitasi pertambangan emas di wilayah itu. Penolakan juga dilakukan oleh aktivis LSM lingkungan, seperti Jaringan Pengelolaan Sumber Daya Alam (JAPESDA-Gorontalo) dan mahasiswa, karena PT.Antam dinilai akan merampas areal pertambangan rakyat, yang sudah sejak lama dikelolah secara tradisional oleh warga setempat.
Sesungguhnya, perdebatan seputar aktivitas pertambangan saat ini sedang menjadi topik yang menarik. Tidak saja di daerah ini, namun di republik yang kita cintai ini. Penulis tidak ingin membatasi argumentasi para pihak mengenai hal ini, selagi kita tetap dapat menjaga tema dan pokok bahasan, tidak melebar atau bias, apalagi kalau mengarah pada character assassination terhadap orang lain.
Bagi kawan-kawan pro lingkungan, dan semua pihak yang tertarik memikirkan masa depan. Mari suarakan kata hatimu. Teriakkan apa yang bisa engkau teriakkan!!, tulis apa yang bisa engkau tulis.!!. Saya menulis juga bukan karena cerdas, tapi karena sedang gelisah. Saya menulis bukan karena bercita-cita jadi penulis besar, tapi karena terhimpit keadaan. Saya melihat mereka, para buruh, para petani, para pedagang, para nelayan, para karyawan, di sana… dikejauhan. Menjerit oleh ketimpangan kebijakan yang tercipta oleh sistim yang bebal dan timpang. Mereka juga berteriak lantang…tentang hidup mereka.!! Mereka bukan ingin jadi provokator, tapi karena ditindas. Mari terus berteriak !! agar terbuka mata hati yang telah melupakan rasa kemanusiaan dan keadilan. Waullahulam (*)
Mari Terus Berteriak…!!!
Mei 7, 2008 oleh pilabeanku













yups benre banget..
butul atina