Isue adanya para anggota DPRD yang “melacurkan” dirinya dengan dinas-dinas di lingkungan pemerintahan, menjadi topik menarik dalam diskusi di berbagai tempat. Meski menarik untuk ditelisik, namun “cerita” itu dianggap basi bila harus dikonsumsi saat ini.
Pasalnya, anggota dewan yang bermain proyek dinilai bukanlah peristiwa yang baru. Praktik ini merupakan praktik yang sudah lama terjadi, dan terus terulang dari periode ke periode. Modus yang dilakukan para “pelacur parlemen” sangat rapih. Sehingga, sangat sulit mengungkap jenis kejahatan kerah putih yang satu ini.
Meski begitu, praktek dan modus kerja pelacur proyek di parlemen, sangat mudah dikenali. Hanya saja, sifatnya seperti “mutiara di dalam kaca”, yang hanya bisa dilihat, namun tak bisa digenggam. Para pelacur parlemen, atau calo’ proyek, atau sebutan lain bagi anggota dewan yang bermain proyek, bekerja dengan tim yang solid. Sebab, para anggota dewan menggunakan jasa kontraktor sebagai eksekutor.
Pelacur parlemen yang “profesional,” tidak akan terlibat secara langsung terhadap paket-paket proyek yang di eksekusi di SKPD. Mereka hanya menerima setoran fee (persen) dari kontraktor pelaksana proyek, yang sudah ditunjuk sebelumnya.
Jasa pelacur parlemen, biasanya hanya sampai pada mengarahkan paket proyek kepada kontraktor yang sudah bersepakat sebelumnya. Caranya, dengan membantu mengkomunikasikan dengan kepala dinas, atau bahkan sampai pada upaya menekan kepala dinas, jika sewaktu-waktu komunikasi menjadi buntu.
Praktek kejahatan ini tidak dibangun diatas perjanjian-perjanjian resmi, seperti menggunakan MoU (Memorandum Of Understanding) atau semacam kontrak tertulis diatas materai.
Sangat sulit menemukan bukti tertulis adanya keterlibatan anggota dewan dalam “pelacuran” ini. Kepercayaan, atau saling percaya atas kesepakatan tidak tertulis antara Aleg yang melacur, kontraktor, dan kepala dinas, adalah modal utama dalam konspirasi ini.
Sebab, para pelacur parlemen sudah memiliki jaringan hingga ke dinas-dinas. Anggota dewan yang bersangkutan, membangun komunikasi dengan kepala dinas, atau pejabat penting lainnya yang ikut mengambil keputusan di setiap SKPD. Tentu, dengan perjanjian saling menguntungkan, atau pembagian fee yang proporsional antar pihak.
Bagaimana sistim kerja ini dilakukan? lobi-lobi atau komunikasi atas paket proyek yang akan dikerjakan, biasanya dilakukan di luar jam kerja. Ada pula lobi yang dilakukan melalui handphone atau bahkan dilakukan di kantor dinas. Tak heran, biasanya kita melihat ada oknum anggota DPRD yang secara personal bertandang ke Dinas-Dinas yang banyak mengelola paket proyek, disaat jam kerja. Atau, ada oknum anggota DPRD yang selalu berbarengan dengan kontraktor, menjelang musim tender atau pelaksanaan proyek.
Meski begitu, tidak seluruh anggota dewan berminat dalam “pelacuran” ini. Sehingga kunjungan tidak resmi ke dinas, atau selalu berbarengan dengan kontraktor, tidak selamanya menjadi ciri khas bagi para “pelacur” parlemen. Sebab, ada juga anggota dewan yang dekat dengan kontraktor hanya karena hubungan pertemanan atau persaudaraan.
Sistim kerja yang begitu apik dan rapih ini, membuat praktik pelacur parlemen sangat sulit untuk diberantas.(*)
Ditulis dalam Berita | 5 Komentar »
Percaya atau tidak, jika saya katakan masih ada orang Kabupaten Bangai khususnya di wilayah-wilayah timur Kabupaten Banggai, seperti di Bualemo, Balantak, Lamala, dan bahkan Masama, yang sampai saat ini belum pernah menginjak-kan kakinya di Luwuk? Percaya atau tidak, itu tidak penting. Yang penting adalah, mengapa itu terjadi.
Fakta-fakta berikut akan menggiring ingatan kita, hingga sampai pada kesimpulan bahwa terjadi kesenjangan pembangunan di daerah ini. Begini, jika ada orang Luwuk yang baru pulang dari Jakarta, atau kota-kota besar lainnya di Indonesia, akan terlihat lebih istimewah. Bahkan, ia akan menjadi “bintang” diantara teman-temannya yang belum pernah ke Jakarta atau kota-kota besar lainnya.
Begitu juga dengan apa yang terjadi di Kabupaten Banggai. Jika ada “orang timur” Kabupaten Banggai yang baru pulang dari Luwuk, maka ia akan terlihat lebih istimewa dikampungnya. Bahkan ia akan menjadi “bintang” diantara rekan-rekannya itu. Kemarin, saya melihat beberapa anak-anak kecil Pangkalasean, (di pedalaman Balantak itu) yang sedang asyik bercerita. Sesekali mereka saling mengejek, dan bahkan mengolok-olok satu sama lain.
Setelah saya telisik, ternyata anak-anak itu sedang mengagung-agungkan salah satu temannya, yang baru saja pulang dari Luwuk mengikuti ibunya berbelanja isi kios di-rumahnya. Ia bercerita tentang Luwuk yang indah, yang ramai, yang banyak kendaraan, dan lain-lain. Sementara yang lainnya tetap ngotot dengan pendapatnya, bahwa pangkalasean lebih bagus dari Luwuk.
Saya benar-benar terharu dengan kenyataan itu. Namun saya pikir, anak-anak memang tidak mengerti apa-apa. Luwuk memang ramai, namun kompleksitas masalahnya-pun kian pelik. Namun, hal itu tentu tidak akan bisa diperbandingkan dengan pangkalaseang yang minim fasilitas itu.
Nah, jika kita menyebut wilayah timur Indonesia menjadi kawasan tertinggal di republik ini, maka hal itu sama saja dengan apa yang terjadi di daerah kita. Wilayah timur Kabupaten Banggai adalah kawasan yang sangat tertinggal dari pembangunan. Fenomena yang saya sebutkan tadi, adalah satu dari deretan fakta tragis tentang kesenjangan pembangunan yang diciptakan pemerintah daerah.
Hanya saja, pemerintah Indonesia memiliki program percepatan pembangunan wilayah timur Indonesia, sebagai bentuk komitmen untuk mendorong pemerataan pembangunan, serta membangun kesejahteraan rayat yang lebih berkeadilan. Lihat saja bagaimana Presiden SBY mencanangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri di Palu, ibukota Provinsi Sulteng beberapa waktu lalu. Itu adalah bagian dari wujud keberpihakan atas komitmen kerakyatan.
Pertanyaannya, untuk kita di Kabupaten Banggai, adakah program yang didesain Pemda Banggai untuk kepentingan masyarakat timur Kabupaten Banggai? Melalui tulisan saya ini, saya menyatakan sama sekali tidak ada !.
Mengapa? Ada beberapa penyebab yang sangat mendasar. Pertama, sampai saat ini tidak ada kesadaran Pemda Banggai, bahwa Kabupaten Banggai ini tidak saja di dalam kota Luwuk saja, melainkan tersebar di 13 kecamatan (sekarang sudah 18) kecamatan. Kedua, distribusi pembangunan tidak didasarkan pada skala perioritas berdasarkan kepentingan rakyat, melainkan didasarkan para skala perioritas berdasarkan konspirasi dan hitung-hitungan untung-rugi para elit. Ketiga, lemahnya peran wakil-wakil rakyat yang berasal dari wilayah timur Banggai, karena daerah pemilihan satu masih di dominasi anggota DPRD dari Kota Luwuk saja.
Sama seperti bangsa ini, yang seolah hanya di di Jakarta saja. Proyek pembangunan dikucurkan bukan pada fakta kemiskinan, melainkan pada seberapa besar sogokan daerah ke pusat, serta dominasi elite Jakarta terhadap kebijakan nasional. Melihat Luwuk, begitulah Indonesia. Maka, jika di Jakarta ada skandal century, apakah kasus serupa tak ada di daerah ini? (*)
Ditulis dalam Berita | 5 Komentar »
Pria tua berkulit tebal
Dengan dada telanjag,
Berjalan dengan setengah jongkok.
melintasi jalan yang penuh belukar.
terik matahari membakar,
memicu denyut nadi yang mulai malas.
Anakya yang kurus kering, menangis.
Sambil mengosok perutnya yang kerut.
Keringat dingin bercucuran..
mengalir membasahi tubuh.
Ia lapar,
Namun bapaknya pun demikian.
onggokan sampah di jalan-jalan,
menjadi harapan hidup.
di utak atik,
dikumpulkan,
dibungkus,
lalu dijual.
untuk sesuap nasi.
Sementar Disana,
Wajah ceriah penuh dusta
diatas kursi-kursi empuk parlemen.
Membicarakan kebohongan, dengan mimik yang suci
Berteriak lantang di depan forum,
agar tak terlihat wajah yang rakus.
Lalu ramai-ramai merampok uang negara
Disana,
Mereka duduk manis seolah tanpa dosa
Mengukir jemari, dengan kilauan emas berlian.
Menutup telinga dengan jerit tangis yang pilu.
Disana,
Dibalik kaca-kaca tebal gedung bertingkat.
Dibelakang meja..,
Aku melihat mereka yang berdasi,
dengan wajah penuh bopeng.
Tertawa lebar, dan bersepakat
Tentang jabatan barunya.
Suara lapar dari kolong jembatan,
Atau dari sudut-sudut kota..
Menggelegar, namun kembali bisu.
Sepi…
Jantung kota ini menjadi saksi,
Betapa tangis-tangis itu kian melarut pilu
Dalam dinginnya gelap malam.
Namun disana,
Mereka tetap saja diam,
yang berdasi, yang memangku kebijakan.
Duduk manis dengan kepulan asap dari mulutnya.
dengan seribu alasan.
tangisan itu,
jeritan itu,
tidak membuat mereka terusik.
beginilah kita,
dan itulah mereka,
dua sisi yang berbeda
***
Lembah Masama 2010
Ditulis dalam Berita | Tinggalkan sebuah Komentar »
menulis apa adanya,
menulis secukupnya.
agar hati ini tenang.
agar tak ada luka,
dan tentunya,
agar menang…
tak ada kebebasan,
tak ada kemerdekaan.
yang ada hanyalah mimpi,
tentang keindahan-kendahan,
tentang kebebasan,
tentang kemerdekaan..
yang ada,
adalah belenggu rantai baja,
membungkam mata,
telinga,
hati dan pikiran.
lalu,
apa yang dibanggakan dari kita ini?
profesionalisme?
hmmm…busyet.
profesionalisme dalam kapitalisme.
menggenggam jeritan rakyat,
merenggut keuntungan-keuntungan.
atas nama kebebasan.
kita yang untung,
rakat yang buntung.
lalu,
masikah kita bangga?
tidak…!!
kita juga ini penghisap darah.
sepeti drakula yang lahir diera milenium.
sungguh,
tak ada bedanya…..
===
Masama, awal minggu ini
Ditulis dalam Berita | Tinggalkan sebuah Komentar »
malam ini,
seperti malam malam yang lain
jemariku masih terus menari
diatas tools komputer
dan pikiranku melayang…….
jauh, sangat jauh.
tentang cerita masa lalu
yang begitu indah.
zobat,
masikah kau disana,
di tempat dudukmu itu.
tempat dimana aku menemukanmu,
dengan raut wajahmu yang suci.
sekitar sembilan tahun yang lalu.
waktu memang telah lama pergi.
kau dengan kesibukanmu,
dan begitupun aku.
zobat…
masihkah kau ingat ucapanmu
tentang sebuah mimpi.
dalam sekali.
ucapanmu penuh makna.
setiap kata dipenuhi butiran harapan.
Ada kekuatan disetiap tutur katamu.
aku masih mengenangnya.
malam ini,
kenangan itu hadir kembali.
sangat kuat,
dia datang seperti gelombang,
meliuk-liuk,
membentur pikiranku.
merangsang naluriku,
memaksa bibirku,
untuk kembali menyebut namamu.
bulan terlihat samar-samar.
merangkak naik dengan cahaya yg tak sempurna.
gelap berbalut awan yang kelam.
sungguh, malam ini tak sendah waktu itu.
aku tak bisa larut dalam buaian malam ini
aku harus segera kembali.
melupakan nyanyian rindu masa lalu.
agar aku tak sesak lagi….
===
*puncak keles; diseperdua malam
Ditulis dalam Berita | Tinggalkan sebuah Komentar »












